Coretan pena
yang sudah penuh kutulis semua tentangmu. Tentang kita yang tak bisa bersatu.
Aku sudah tidak mampu lagi mengungkapkan semua kekesalanku padamu. Ya Allah,
rasanya aku ingin hidup di dunia yang berbeda jika seperti ini.
Menghadapi
sifatnya yang terkadang membuatku kesal memang sangat sulit. Dia selalu saja
mengerang setiap apa yang aku perintahkan padanya. Aku memang bukan
siapa-siapanya, aku hanya pacarnya yang (mungkin) akan menjadi mantannya.
Namun, apakah mengingatkan sholat adalah kewajibanku sebagai sesama muslim?
Apakah aku salah jika aku mengingatkan dia untuk sholat? Mengapa dia selalu
marah padaku jika aku mengingatkannya? Apa aku mengganggunya? Tidak. Aku rasa,
aku tidak mengganggunya. Aku mengingatkannya di saat dia dalam kondisi tidak
sibuk.
Aku keluar
dari kamarku lalu aku menghempaskan tubuhku pada sofa. Dengan mata yang sudah
sembab, aku duduk di samping Tetehku. Dia tengah menoleh padaku sambil
memerosotkan kaca matanya.
“Kenapa?”
tanyanya kemudian. “Kok, matanya sembab gitu?”
Aku hanya
menggeleng. Mataku masih berderaian air mata. Hidungku terlihat merah saat aku
melihatnya di cermin.
“Gara-gara
cowok brengsek yang kamu pertahankan itu?” tebaknya yang langsung tepat pada
sasaran.
Aku heran
padanya, kenapa dia selalu menyebut si Rizky sebagai “cowok brengsek” padahal
dia nggak tahu sama sifatnya Rizky. Aku yang tahu.
Aku sama
sekali tidak menghiraukannya. Dia terus ngoceh di sampingku tanpa memperhatikan
air mataku yang terus berderai. Aku tahu, aku memang lebay. Hanya saja aku
ingin meluapkan semua kekesalanku.
“Kenapa, sih, teteh selalu melarang aku
sama dia? Memang teteh tahu apa tentang dia?” tanyaku dengan suara yang sudah
tidak biasa lagi. Namanya juga orang nangis pasti suaranya agak serak-serak
basah tapi yang jelas tidak semerdu suara Cakra Khan ataupun Om Anang
Hermansyah.
“Sudahlah,
lebih baik sekarang kamu ke kamar mandi, basuh wajahmu itu, sekalian ambil
wudhu’ terus sholat!” perintahnya mengingatkan aku jika sebelumnya aku hendak mengambil
wudhu’. “Meskipun keadaan kamu sedang tertimpa masalah, sholat kamu harus tetap
khusyu’. Paling tidak kamu khusyu’ dalam bacaan takbir, bacaan
dua kalimat syahadat, dan satunya teteh lupa! Atau jika perlu luapkan semuanya,
menangis saat sholat tidak apa-apa!”
Aku sudah tahu itu! Aku pernah baca di bulletin khotbah sholat
Jumat yang sering disebarkan kepada jamaah sholat Jumat.
Bisa dibilang, saat masalah menimpa aku sering meluapkan emosiku
dengan menangis. Terkadang menangis saat sholat. Karena tiada tempat mengadu
bagiku selain kepada-Nya. Kalau katanya Nike Ardila, hanya iman di dada yang
membuatku mampu selalu tabah menjalani. Apalagi mendengar ocehan para curut dan
ditambah Rizky. Kalau cuma masalah curut-curut itu aku biasa saja. Nanti kalau
sudah bosan mereka pasti akan berhenti sendiri. Toh, Allah tidak pernah tidur.
Kali ini, memang saatnya aku untuk mengkhusyu’kan sholatku. Aku tahu,
Allah pasti mendengar rintihan doa hamba-Nya. Sengaja kuluapkan semua amarahku
dengan menangis, sengaja aku memperlambat bacaan-bacaan dalam sholat dan gerakan-gerakannya
terutama saat takbir dan sujud. Saat itu aku merasa jika sujudku lama banget.
Di sanalah aku merasa tenang. Aku merasa ada bunga-bunga, kesunyian, dan
kesejukan hati. Begitu indahnya anugerah-Mu, Ya Allah. Mungkin, di surga akan
lebih indah dari ini.
۩ ۩
۩
Sungguh, kata-kata Rizky itu terlalu kasar. Aku tahu dia memang cinta,
tetapi dia tidak boleh dengan bebasnya melontarkan kata-kata kasar itu padaku.
Kodrat seorang perempuan memang untuk dicintai, tetapi tidak untuk disakiti
ataupun dicampakkan apalagi dihina oleh seorang lelaki.
Aku sudah mengatakan pada Rizky jika aku hendak sholat, tetapi mengapa
dia tidak mau menungguku sekejap saja? Atau, dia bisa melaksanakan sholat juga.
Sia-sia hidupmu jika kamu tidak bisa meninggalkan waktumu hanya lima menit
untuk melaksanakan sholat. Sholat itu tiang agama, Rizky! Berkali-kali aku
mengucapkan itu padanya. Rasanya aku sudah bosan mengatakan hal itu.
Betapa terkejutnya aku saat aku melihat ponselku yang sudah tadi belum
aku cek. Rizky mengirim pesan singkat padaku yang jelas membuat aku senang.
“Jangan lupa sholat, ya! Sholat itu tiang agama. Ibarat rumah,
tidak akan berdiri kokoh jika tidak ada tiang penyangganya. Sebagai calon imammu
di masa depan, sudah kewajibanku mengingatkan ini. Aku menunggumu menjadi
makmumku.”
Yang jelas saat itu aku senang. Ternyata, Allah telah mengijabah semua
doa-doaku. Allah telah membukakan pintu untuknya. Terima kasih, Ya Allah.
Semoga hal ini tidak hanya sementara.
No comments:
Post a Comment